Api Didepan Mata

I5 January 2021.

Sekitar pukul 18:53 WIB, terdengar suara berteriak "KEBAKARAN!!!!" .

Tak kusangka bisa berada dalam situasi ini. Biasanya aku hanya melihatnya di berita TV Saja.

Masih terasa kuingat jelas saat aku keluar kamar dan asap tebal dan menyengat memenuhi ruang tamu rumah kami.

Bingung . . . . cemas. Entah barang apa dulu yang harus kubawa untuk diselamatkan. Akhirnya aku mengambil tas tangan yang terakhir kupakai, Ipad, HP dan laptop kantor yang saat itu ada dijangkauanku. Orang tua dan adik-adik sibuk menyelamatkan dokumen-dokumen berharga.

Aku segera lari ke luar rumah - tanpa masker.

Sudah banyak orang yang berkerumun di depan rumah kami. Para Pria muda & Bapak-Bapak sigap menyiram rumah yang terbakar. Api semakin membumbung tinggi melahap kayu-kayu dari rumah malang yang terbakar. Suara teriakan banyak terdengar. Orang-orang terlihat kalang kabut karena kejadian kebakaran rumah ini belum pernah terjadi di pemukiman kami sebelumnya.

Rumah yang terbakar tsb hanya terpisahkan 1 rumah dengan rumah kami. Aku seperti sedang menonton berita tapi secara LIVE.

Tanganku gemetar mencari nonor telepon Pemadam Kebakaran. Nomor telepon yang kuhubungi ternyata salah sambung. Saat aku panik mencari nomor telepon yang benar, salah seorang tetanggaku langsung menghampiriku. Dia memintaku untuk mencatat nomor HP dan mengirim foto rumah yang terbakar.

Ternyata nomor HP Itu adalah nomor Pemadam Kebakaran.

"Tolong Pak......Segera datang"

"Cepat Pak...apinya hampir mengenai rumah di sebelahnya!!!"

Rasanya, pesan singkat itulah yang paling dramatis yang pernah aku kirim.

Saat kami menunggu kedatangan DamKar, Para pria masih berusaha memadamkan api dan menyiram genteng rumah disebelahnya sebagai tindakan pencegahan darurat. Beberapa kali terdengar suara ledakan dari dalam rumah. Angin sempat berhembus kencang sehingga membuat api menjilati rumah di sebelahnya dan ke arah rumah kami. Tak berapa lama, Bapak melihatku belum memakai masker, akhirnya adikku memberi satu untuk kugunakan. Sekilas aku lupa kalau saat itu pandemi Corona masih terjadi.

Seperti mimpi rasanya. Sekilas aku berpikir bagaimana jika rumah kami ikut terbakar. Kami akan tinggal dimana.

 Ah.....inilah batas kemampuan manusia, pikirku.

Apa yang kami punya semata hanya titipan Sang Pencipta. Tak hentinya aku berdoa memohon mukzijat dariNya. Hanya doa yang bisa kulakukan....berdoa agar tidak ada angin malam itu, berdoa agar DamKar datang segera sebelum api berpindah ke rumah di sebelahnya. Berdoa agar kami terhindar dari mara bahaya. Berdoa agar kami masih bisa punya tempat tinggal.

Aku lihat mama disebelahku berteriak histeris dan berdoa kepada Tuhan untuk meminta pertolongannya. Belum pernah kulihat mama seputus asa seperti malam itu. Sementara kami panik, beberapa orang justru terlihat hanya menonton saja. Ya inilah kondisi manusia saat ini dimana derita orang menjadi tontonan yang menarik bagi orang lainnya. 

Angin mulai mereda, api tidak menjilati rumah di sebelahnya. Tuhan mendengar doa kami.

DamKar datang, mulai mengeluarkan selang dan beberapa saat kemudian pancuran air dari selang menyirami api. Kami berteriak histeris....pertolongan datang tepat waktu. Mobil-mobil DamKar terus berdatangan sampai total ada sekitar 8 mobil. Pasuran DamKar dengan sigap menjinakkan api yang terus menyala sampai perlahan api tsb redup dan mati.

Tuhan masih sayang kami. Hanya satu rumah yang terbakar....bahkan listrik tidak padam karena beda tiang setelah dicek oleh petugas PLN.

Aku melihat DamKar mulai masuk ke dalam rumah itu, menyusuri tiap sudutnya untuk memastikan tidak ada sisa titik api yang belum padam. Ternyata suara bunyi ledakan yang kami dengar berasal dari tabung gas dan tiga sepeda motor yang tidak berhasil dikeluarkan. Mukjizat lainnya, masih ada satu mobil yang terparkir di garasi rumah itu dan tidak bisa dikeluarkan. Bagian mobil itu sudah terbakar dan tinggal tersisa bagian depan dan tangki bensin. Tidak bisa terbayangkan jika mobil itu meledak malam itu. Tentu kerusakan yang terjadi lebih besar dan banyak rumah yang terbakar juga.

Kepanikan mereda, intensitas menghilang.

Kami sudah bisa bernafas lega, rumah kami terselamatkan dari bahaya kebakaran. Tuhan bertindak nyata menjauhkan kami dari mara bahaya. Ya....Tuhan mendengar doa kami malam itu.

Kami ikut menyesal dan berempati terhadap tetangga kami yang tertimpa musibah kebakaran tsb. Tapi di sisi lain, kami pun berbahagia karena terluput dari kebakaran. Akhirnya kami bisa membersihkan rumah dari kekacauan yang sudah terjadi dan kembali beristirahat malam itu. Walaupun terbersit kekhawatiran dan trauma tapi kami percaya Tuhan selalu melindungi kami.

Siapa yang sangka, korsleting listrik bisa menjadi penyebab utama kebakaran. Apa yang tidak pernah diperhatikan sebelumnya menjadi perhatian utama kami saat ini....menyiapkan APAR, mematikan listrik dan mencabut colokan dari saklar jika tidak digunakan. 

Sebagai manusia, itulah yang bisa kami lakukan. Tapi yang terutama...pertolongan dan perlindungan Tuhanlah yang kami butuhkan setiap saat.

Tahun 2020 dibuka dengan banjir yang memasuki rumah kami. Sementara Januari 2021 api hampir mengenai rumah kami. Apapun yang terjadi, satu hal yang kami percayai "Tuhan yang memberi dan Tuhanlah yang mengambil karena semua harta di dunia ini hanyalah titipan sementara".

Stay safe everyone...



Comments

Popular posts from this blog

Thinking Out Loud

Apply visa Korea Selatan susah?